Korban Gempa dan Tsunami, Anak-anak Hilang dan Menjadi Yatim
Korban
meninggal pascagempa bumi tektonik dengan magnitudo 7,4 yang
mengguncang Donggala, Sigi dan Palu (Sulawesi Tengah) pada Jumat 28
September 2018 petang, terus bertambah menjadi 1.407 jiwa.
Jumlah
korban gempa dan tsunami meningkat tiga kali lipat sejak rilis pertama
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Senin (1/10/2018). Luka
berat 2.549 orang, yang hilang ada 113 orang dan yang tertimbun 152
orang. Jumlah korban diperkirakan masih bertambah.
Kesulitan hidup pengungsi
BNPB
menyebutkan sekira 73.000 warga telah berada di pengungsian. Namun
badan pemulihan bencana Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghitung ada
191.000 butuh bantuan secepat mungkin.
Para
korban di pengungsian membutuhkan setidaknya ketersediaan 401 juta
kalori makanan per hari, 571.000 liter air per hari, serta 659.000 meter
persegi tenda penampungan. Kebutuhan ini sangat mendesak bagi pengungsi
yang kebanyakan anak-anak dan orang tua.
Direktur
Implementasi Program Save the Children Tom Howells melaporkan kondisi
pengungsi yang hidup dalam kesulitan dan tidak sehat. Kekurangan
makanan, air minum, matras, tenda, air bersih dan MCK, pakaian dan
obat-obatan.
Suara-suara
para pengungsi juga menyampaikan keprihatinannya. Salah satunya korban
gempa dan tsunami Yayuk Febrianti Darawia, mengeluhkan di laman
pribadinya tentang kondisi kulit anaknya yang terbakar akibat terpapar
terik matahari selama di pengungsian.
“Saya
punya anak umur dua minggu, mukanya sudah seperti terbakar di bawah
tenda yang kepanasan. Saya butuh sekali mobile rental/bus ke Makassar,
karena pasti akan bermunculan wabah penyakit karena rumah saya
berdekatan dengan Mall dan RS, jenazah banyak dan lalat pasti sudah
terkontaminasi,” tulisnya.
Lain halnya dengan Andi Rahmatan, korban gempa Balaroa (Kota Palu), tak bisa mengungsi ke luarganya ke luar dari Kota Palu.
“Kami setiap malam tidur di sini, mau ke Makassar juga tidak ada saudara di sana,” tukas dia kepada salah satu media nasional.
Andi yang mengungsi bersama dua anak kembarnya yang baru berusia satu bulan mengeluhkan minimnya bantuan anak.
“Bantuan
popok atau susu itu belum ada, kalau orang tuanya tidak diperhatikan
tidak apa-apa, saya kasihan anak saya,” katanya sambil terisak.
Data-data
pengungsi yang disampaikan BNPB masih umum. Belum tercatat jumlah anak
di pengungsian, remaja, lansia, hingga orang sakit, akibatnya distribusi
bantuan logistik banyak yang kurang dari kebutuhan pengungsi.
Pemerintah
dan BNPB perlu mengelola bantuan logistik berdasar kebutuhan yang
disalurkan oleh individu, perusahaan, daerah-daerah, bahkan dari banyak
negara, karena warga yang mengalami kerusakan 65.733 unit rumah
membutuhkan penanganan pengungsian jangka panjang yang lebih baik.
bantu mereka di sini BeeHappy
bantu mereka di sini BeeHappy

Komentar
Posting Komentar